![]() |
| Pasir pantai yang berlurik Oleh: Dandy IM |
Hamparan pasir
pantai yang sudah mulai mengering sebenarnya tetap lembut. Bola-bola air masih
menyatu dan menyelinap di rongga-rongga antarbutir pasir. Kita bisa membuat
sebuah istana lengkap dengan bentengnya dengan menggunakan pasir yang seperti
ini. Tentu saja istana mini, alias imaji.
Akan tetapi, kita
tetap butuh air laut untuk membuat istana mini. Kita perlu untuk menggali
hamparan pasir itu selebar kepalan tangan dan sedalam lengan. Bila sudah
sedalam lengan, air laut akan menyembur dari bawah dan samping. Air laut ini
digunakan untuk membuat adonan pasir menjadi lebih encer. Kita bisa membuat para prajurit di atas
benteng-benteng istana dengan meneteskan pasir encer dari genggaman tangan.
Perlu pengalaman dan rasa hati-hati agar tetesan itu bisa membentuk badan,
leher, kepala, dan organ-organ lainnya dari tubuh prajurit. Anehnya, dan baru
tersadar sekarang, saya tidak pernah membuat raja, ratu, atau pangeran. Saya
hanya tertarik membuat para penjaga istana.
Hal lain yang
perlu diperhatikan: dasar lubang yang kita buat sebaiknya dicegah agar tak melebar.
Pelebaran dasar lubang bisa membuat tebing lubang runtuh. Meski ini tak jadi
soal – malah sebenarnya bagus karena pasir encer jadi lebih banyak, tetapi
biasanya ada persaingan dengan teman sebelah untuk mempertahankan tebing
lubang. Mungkin, sumur adalah bagian kemegahan dari sebuah istana.
Pasir yang
seperti ini sebenarnya juga enak buat main sepakbola. Tidak ada air mengambang
yang bisa menghentikan laju bola secara mendadak. Ini bagus, agar tak terulang
lagi kejadian yang dialami teman saya. Dia menggiring bola dengan gaya Theo
Walcott – sangat cepat dan sangat lurus. Tiba-tiba, bola di kakinya diam
mendadak. Kaki kirinya tersandung bola. Ia terkapar di pasir yang becek.
Spontan dia menggenggam pasir dan melempari bola sekuat tenaga, sambil menghujatnya.
Teman-temannya, termasuk saya, spontan juga menertawainya.
Pasir yang kering
juga mengindikasikan tidak banyak batu di hamparan. Karena, hamparan pasir
kering terbentuk dari tumpukan pasir yang tebal, hingga mengubur batu. Kaki-kaki
menjadi tidak perlu dikhawatirkan tersandung gumpalan batu. Sebab kita kan
sama-sama tahu, anak-anak yang bermain bola di pasir pantai tidak memakai alas
kaki. Kecuali adik saya, yang ngeyel tetap
main bola meski kaki kirinya bolong di bagian bawah setelah dioperasi. Ia
memakai sandal di kaki kirinya saja. Selama bermain, posisinya terus berada di
depan kiper. Tak pernah berpindah. Ia hanya menunggu bola datang dan
menendangnya dengan sedikit asal-asalan. Yang penting bola melambung ke depan.
Pasir itu mungkin hanya bermasalah bagi saya.
Hanya sekali saja bermain bola dengan pasir yang seperti itu, kaki saya
langsung kapalan di bagian depan. Terutama di bagian dalam kaki dan jempol.
Kulit itu mengeras di bagian bawah jempol namun masih berwarna putih, sementara
di belakang jempol berwarna merah. Ada kumpulan darah yang terperangkap di
kantong yang terbentuk dari kulit yang mengembang.
Bahkan, di kaki kanan
sudah terkelupas empat lapis kulit setelah berkali-kali main. Darahnya sudah
tak lagi mengalir.
“Pakai sandal
sama sepatu terus sih, makanya kulit
kakimu jadi halus dan tipis,” salah satu teman berkata pada saya dengan pipi
kanannya terangkat. Memang, saat sore sebelum bermain bola, saya melihat kulit
kaki teman-teman saya lebih tebal. Garis-garis di kulit mereka terlihat lebih
jelas. Tak mengherankan, sebab mereka sering menapaki bongkahan tanah sawah
yang sudah lama dibajak.
Tentu saja mereka
tahu bahwa orang kuliah tidak boleh nyeker.
Bahkan sebagian besar tak boleh bersandal, harus bersepatu. Mungkin karena
para intelektual itu sudah terlanjur percaya bahwa otak berada di telapak kaki,
sehingga harus dilindungi, didandani.
Sebenarnya saat masih berada di hamparan
pasir, berlari-lari dan menendang bola, rasa sakit akibat kulit kaki yang
mengelupas tak terasa. Meski pasir-pasir laut menyelinap ke lembar-lembar
kulit. Yang berada di otak, saat bola menghampiri kaki atau teman se-tim
membawa bola, adalah perintah agar kaki mengontrol bola atau ikut berlari ke
arah gawang lawan. Namun perintah yang sama tak terjadi saat tim sendiri sedang
diserang. Kaki malas bergerak untuk mundur dan bertahan, atau berusaha merebut bola
dari lawan. Yang dilakukan kemudian hanya memegang pinggang dengan kedua belah
tangan. Entahlah, ikut membantu pertahanan memang tak mengasyikkan.
Rasa sakit barulah
menyiksa saat kaki mulai tersentuh air tawar di kamar mandi. Apakah air asin
laut ramah pada luka? Apakah air yang berasa tawar justru kejam terhadap luka?
Saya tak tahu pasti. Dan selama tidak tahu, saya akan menjawab pertanyaan itu
seperti ini: di air asin saya bermain sepakbola, sementara di air tawar saya
hanya berdiri diam saja.
Karena terbiasa sejak kecil, setelah selesai
mandi dan kaki sudah kering, saya mengibas-ngibaskan sumbu yang terlumuri
minyak tanah. Ini dilakukan sampai saya yakin minyak tanah sudah meresap ke
dalam luka. Beberapa detik kemudian, minyak tanah itu akan menggigiti permukaan
luka. Rasa sakitnya lebih dari yang terasa di kamar mandi.
Saat rasa sakit
itu mencapai puncaknya, saya terpikirkan satu hal: alas kaki memang melindungi
kaki, namun sebetulnya ia juga memperlemah kaki. Tipis!
Ingatan kemudian
terlontar pada saat masih belajar di madrasah sanawiah. Di sana terdapat dua
gedung tempat belajar, sebuah masjid atap tumpang tiga, dan sepetak tanah yang
masih berada di dalam pagar. Di bagian timur, bagian atas tanah itu terlapisi
pasir halus. Di sisi seberangnya, tanahnya ditumbuhi rumput, dilapisi
kerikil-kerikil tajam, dan beberapa pecahan keramik. Anak-anak akan membuat
gawang dengan tumpukan sandal. Bola plastik akan menjadi rebutan, meski sering
juga kaki menyandung pecahan keramik atau menendang batu. Kadang-kadang badan
yang mengenakan baju takwa lengkap dengan kopiahnya berseluncur di atas lapisan
pasir karena kaki akan terlambat menerima umpan silang di depan gawang dari
rekan satu tim. Kita begitu riuh bermain bola sampai tak terdengar peringatan
masuk kelas. Sampai-sampai ustadz yang sering menggunakan kopiah bulat berwarna
putih datang membawa ranting bambu. Ia menyasar pantat siapa saja yang bisa dia
jangkau. Yang lolos masuk ke kelas, tak akan terkena sabetannya. Ia memang
terkenal ustadz yang jahat. Selain sering menyabet dengan ranting bambu, ia
sering menggigit kuping. Bahkan beredar cerita bahwa ia pernah menggigit kuping
muridnya sampai putus.
Di kala itu, kaki
saya tak pernah kapalan.
Seperti
tahun-tahun sebelumnya, saat memasuki bulan Agustus, akan digelar pertandingan
sepakbola antarkampung lokalan. Artinya, tidak boleh menggunakan pemain bon, yaitu pemain yang didatangkan dari
luar pulau. Klub sepakbola desa saya sebenarnya bernama Perseka (Persatuan
Sepakbola Kalowang). Tapi, sang pelatih tiba-tiba menggantinya dengan nama
Persatuan Sepakbola (PS) Alangan. Sehari-hari, kita memang menyebut hamparan
pasir itu sebagai Alangan. Barangkali,
karena kita hanya bermodal latihan di Alangan
setiap sore – itu pun kalo air sedang surut. Sedangkan desa-desa lainnya
punya lapangan rumput masing-masing.
Di ujung timur
pulau bahkan ada yang menjengkelkan. Ada hamparan lapangan bola, tak banyak
bergelombang, dengan tiang gawang yang masih kokoh. Namun tak ada lagi bunyi bug yang muncul dari benturan kaki
dengan bola, atau bunyi betis menghantam betis. Lapangan itu tiap sore hanya
dihuni segerombolan kambing putih yang bulunya agak mau keriting.
Kambing-kambing itu ada yang dilepas begitu saja, menjelajah lapangan, dan ada
juga yang diikat ke pasak. Mereka cukup membantu lapangan agar rumputnya tak
jadi rimbun.
“Di sana
anak-anaknya pengin pinter semua,” teman saya yang agak gempal menyela.
Maksud dia,
anak-anak di desa itu banyak yang meninggalkan desanya untuk melanjutkan
sekolah di luar pulau. Sedangkan yang masih tinggal – yang masih SD, SMP, atau
SMA – lebih senang berada di rumah, tak bersenggama dengan bola di sore hari.
“Belajar terus
mungkin.”
Kemudian akan
muncul sebutan: orang-orang sekolah!
Karena sepakbola
agustusan memakai lapangan rumput, PS Alangan tentu harus mulai berlatih di
lapangan rumput beberapa hari sebelum pertandingan dimulai. Maka, ide yang muncul,
mengajak friendly match desa sebelah.
Desa yang ditantang kesebelasannya bernama PS Fatanah.
Tanah lapangan di
sana keras. Sebab tanahnya berwarna putih. Kalo tanah yang lembut biasanya
berwarna hitam. Rumput lapangan cukup bagus. Di sisi utara berbatasan dengan
tebing, yang di atasnya ada jalan aspal. Sementara di sisi selatan terdapat
jurang yang nyaris tepat di pinggir garis lapangan. Walau ada jejeran
pohon-pohon tinggi di sepanjang garis, tapi cukup sering bola menggelinding
jatuh ke dalam jurang. Untung jurangnya tak cukup dalam.
Saat mau
berangkat dari rumah, saya bertengkar dengan adik masalah sepatu. Kita berebut
sepatu. Ada dua sepatu, yang satu berwarna pink,
yang satunya kuning. Kita tidak sedang berebut warna – tentu saja. Tapi,
yang pink lebih baru dan terawat.
Sedang yang kuning bentuknya saja sudah tak keruan.
Akhirnya saya
memakai yang kuning. Sebab adik sudah berkata: itu semua punyaku kok.
Ketika sudah
berada di lapangan, tak perlu disuruh, semua langsung siap-siap pasang sepatu. Lagipula
kita memang sudah telat. Tuan rumah sudah sangat siap. Saat saya mengambil kaos
kaki yang tergumpal di sepatu, ada dua katak yang sedang ngobrol ringan di dalam
sepatu.
Asu!
Dengan memegang
ujungnya, sepatu itu saya hentak-hentakkan ke tanah. Perlu berkali-kali
hentakan sampai kedua katak itu keluar. Lalu mereka bersembunyi di timbunan
rumput.
Mungkin tak
sampai sepuluh menit, para pemain PS Alangan – ya, termasuk saya – sudah mulai
kesusahan menghirup udara. Keluhannya sama: kaki terasa berat. Seperti ada
sesuatu yang menahan kaki saat ingin berlari. Kaki juga tak bebas bergerak
karena memakai sepatu.
Iyalah,
sehari-hari kaki menapak pasir pantai, bermanuver dengan bebas, berlari dengan
enteng, lalu disuruh memakai sepatu. Kaki jadi kaku.
“Umpan
terobosanmu tadi nggak aku kejar bukan karena apa-apa, udah pengap,” teman saya
berkeluh saat babak pertama selesai. Dia bermain di sayap kanan.
“Iya, tiap mau
lari tuh rasanya kayak di tanjakan terus,” teman saya yang lain, bermain di
gelandang, menambahi.
Tentu saja narasi
tentang alas kaki di sepakbola tak selalu buruk seperti itu. Masih ingat saat
Euro 2016, Payet mencium sepatu Griezmann setelah menjebol gawang Islandia? Di
momen itu, alas kaki dipuja dengan begitu hikmat.










