Selasa, 02 Agustus 2016

Narasi Alas Kaki

Pasir pantai yang berlurik
Oleh: Dandy IM
Hamparan pasir pantai yang sudah mulai mengering sebenarnya tetap lembut. Bola-bola air masih menyatu dan menyelinap di rongga-rongga antarbutir pasir. Kita bisa membuat sebuah istana lengkap dengan bentengnya dengan menggunakan pasir yang seperti ini. Tentu saja istana mini, alias imaji.
Akan tetapi, kita tetap butuh air laut untuk membuat istana mini. Kita perlu untuk menggali hamparan pasir itu selebar kepalan tangan dan sedalam lengan. Bila sudah sedalam lengan, air laut akan menyembur dari bawah dan samping. Air laut ini digunakan untuk membuat adonan pasir menjadi lebih encer. Kita bisa membuat para prajurit di atas benteng-benteng istana dengan meneteskan pasir encer dari genggaman tangan. Perlu pengalaman dan rasa hati-hati agar tetesan itu bisa membentuk badan, leher, kepala, dan organ-organ lainnya dari tubuh prajurit. Anehnya, dan baru tersadar sekarang, saya tidak pernah membuat raja, ratu, atau pangeran. Saya hanya tertarik membuat para penjaga istana.
Hal lain yang perlu diperhatikan: dasar lubang yang kita buat sebaiknya dicegah agar tak melebar. Pelebaran dasar lubang bisa membuat tebing lubang runtuh. Meski ini tak jadi soal – malah sebenarnya bagus karena pasir encer jadi lebih banyak, tetapi biasanya ada persaingan dengan teman sebelah untuk mempertahankan tebing lubang. Mungkin, sumur adalah bagian kemegahan dari sebuah istana.
Pasir yang seperti ini sebenarnya juga enak buat main sepakbola. Tidak ada air mengambang yang bisa menghentikan laju bola secara mendadak. Ini bagus, agar tak terulang lagi kejadian yang dialami teman saya. Dia menggiring bola dengan gaya Theo Walcott – sangat cepat dan sangat lurus. Tiba-tiba, bola di kakinya diam mendadak. Kaki kirinya tersandung bola. Ia terkapar di pasir yang becek. Spontan dia menggenggam pasir dan melempari bola sekuat tenaga, sambil menghujatnya. Teman-temannya, termasuk saya, spontan juga menertawainya.
Pasir yang kering juga mengindikasikan tidak banyak batu di hamparan. Karena, hamparan pasir kering terbentuk dari tumpukan pasir yang tebal, hingga mengubur batu. Kaki-kaki menjadi tidak perlu dikhawatirkan tersandung gumpalan batu. Sebab kita kan sama-sama tahu, anak-anak yang bermain bola di pasir pantai tidak memakai alas kaki. Kecuali adik saya, yang ngeyel tetap main bola meski kaki kirinya bolong di bagian bawah setelah dioperasi. Ia memakai sandal di kaki kirinya saja. Selama bermain, posisinya terus berada di depan kiper. Tak pernah berpindah. Ia hanya menunggu bola datang dan menendangnya dengan sedikit asal-asalan. Yang penting bola melambung ke depan.
 Pasir itu mungkin hanya bermasalah bagi saya. Hanya sekali saja bermain bola dengan pasir yang seperti itu, kaki saya langsung kapalan di bagian depan. Terutama di bagian dalam kaki dan jempol. Kulit itu mengeras di bagian bawah jempol namun masih berwarna putih, sementara di belakang jempol berwarna merah. Ada kumpulan darah yang terperangkap di kantong yang terbentuk dari kulit yang mengembang.
Bahkan, di kaki kanan sudah terkelupas empat lapis kulit setelah berkali-kali main. Darahnya sudah tak lagi mengalir.
“Pakai sandal sama sepatu terus sih, makanya kulit kakimu jadi halus dan tipis,” salah satu teman berkata pada saya dengan pipi kanannya terangkat. Memang, saat sore sebelum bermain bola, saya melihat kulit kaki teman-teman saya lebih tebal. Garis-garis di kulit mereka terlihat lebih jelas. Tak mengherankan, sebab mereka sering menapaki bongkahan tanah sawah yang sudah lama dibajak.
Tentu saja mereka tahu bahwa orang kuliah tidak boleh nyeker. Bahkan sebagian besar tak boleh bersandal, harus bersepatu. Mungkin karena para intelektual itu sudah terlanjur percaya bahwa otak berada di telapak kaki, sehingga harus dilindungi, didandani.
 Sebenarnya saat masih berada di hamparan pasir, berlari-lari dan menendang bola, rasa sakit akibat kulit kaki yang mengelupas tak terasa. Meski pasir-pasir laut menyelinap ke lembar-lembar kulit. Yang berada di otak, saat bola menghampiri kaki atau teman se-tim membawa bola, adalah perintah agar kaki mengontrol bola atau ikut berlari ke arah gawang lawan. Namun perintah yang sama tak terjadi saat tim sendiri sedang diserang. Kaki malas bergerak untuk mundur dan bertahan, atau berusaha merebut bola dari lawan. Yang dilakukan kemudian hanya memegang pinggang dengan kedua belah tangan. Entahlah, ikut membantu pertahanan memang tak mengasyikkan.
Rasa sakit barulah menyiksa saat kaki mulai tersentuh air tawar di kamar mandi. Apakah air asin laut ramah pada luka? Apakah air yang berasa tawar justru kejam terhadap luka? Saya tak tahu pasti. Dan selama tidak tahu, saya akan menjawab pertanyaan itu seperti ini: di air asin saya bermain sepakbola, sementara di air tawar saya hanya berdiri diam saja.
 Karena terbiasa sejak kecil, setelah selesai mandi dan kaki sudah kering, saya mengibas-ngibaskan sumbu yang terlumuri minyak tanah. Ini dilakukan sampai saya yakin minyak tanah sudah meresap ke dalam luka. Beberapa detik kemudian, minyak tanah itu akan menggigiti permukaan luka. Rasa sakitnya lebih dari yang terasa di kamar mandi.
Saat rasa sakit itu mencapai puncaknya, saya terpikirkan satu hal: alas kaki memang melindungi kaki, namun sebetulnya ia juga memperlemah kaki. Tipis!
Ingatan kemudian terlontar pada saat masih belajar di madrasah sanawiah. Di sana terdapat dua gedung tempat belajar, sebuah masjid atap tumpang tiga, dan sepetak tanah yang masih berada di dalam pagar. Di bagian timur, bagian atas tanah itu terlapisi pasir halus. Di sisi seberangnya, tanahnya ditumbuhi rumput, dilapisi kerikil-kerikil tajam, dan beberapa pecahan keramik. Anak-anak akan membuat gawang dengan tumpukan sandal. Bola plastik akan menjadi rebutan, meski sering juga kaki menyandung pecahan keramik atau menendang batu. Kadang-kadang badan yang mengenakan baju takwa lengkap dengan kopiahnya berseluncur di atas lapisan pasir karena kaki akan terlambat menerima umpan silang di depan gawang dari rekan satu tim. Kita begitu riuh bermain bola sampai tak terdengar peringatan masuk kelas. Sampai-sampai ustadz yang sering menggunakan kopiah bulat berwarna putih datang membawa ranting bambu. Ia menyasar pantat siapa saja yang bisa dia jangkau. Yang lolos masuk ke kelas, tak akan terkena sabetannya. Ia memang terkenal ustadz yang jahat. Selain sering menyabet dengan ranting bambu, ia sering menggigit kuping. Bahkan beredar cerita bahwa ia pernah menggigit kuping muridnya sampai putus.
Di kala itu, kaki saya tak pernah kapalan.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, saat memasuki bulan Agustus, akan digelar pertandingan sepakbola antarkampung lokalan. Artinya, tidak boleh menggunakan pemain bon, yaitu pemain yang didatangkan dari luar pulau. Klub sepakbola desa saya sebenarnya bernama Perseka (Persatuan Sepakbola Kalowang). Tapi, sang pelatih tiba-tiba menggantinya dengan nama Persatuan Sepakbola (PS) Alangan. Sehari-hari, kita memang menyebut hamparan pasir itu sebagai Alangan. Barangkali, karena kita hanya bermodal latihan di Alangan setiap sore – itu pun kalo air sedang surut. Sedangkan desa-desa lainnya punya lapangan rumput masing-masing.
Di ujung timur pulau bahkan ada yang menjengkelkan. Ada hamparan lapangan bola, tak banyak bergelombang, dengan tiang gawang yang masih kokoh. Namun tak ada lagi bunyi bug yang muncul dari benturan kaki dengan bola, atau bunyi betis menghantam betis. Lapangan itu tiap sore hanya dihuni segerombolan kambing putih yang bulunya agak mau keriting. Kambing-kambing itu ada yang dilepas begitu saja, menjelajah lapangan, dan ada juga yang diikat ke pasak. Mereka cukup membantu lapangan agar rumputnya tak jadi rimbun.
“Di sana anak-anaknya pengin pinter semua,” teman saya yang agak gempal menyela.
Maksud dia, anak-anak di desa itu banyak yang meninggalkan desanya untuk melanjutkan sekolah di luar pulau. Sedangkan yang masih tinggal – yang masih SD, SMP, atau SMA – lebih senang berada di rumah, tak bersenggama dengan bola di sore hari.
“Belajar terus mungkin.”
Kemudian akan muncul sebutan: orang-orang sekolah!
Karena sepakbola agustusan memakai lapangan rumput, PS Alangan tentu harus mulai berlatih di lapangan rumput beberapa hari sebelum pertandingan dimulai. Maka, ide yang muncul, mengajak friendly match desa sebelah. Desa yang ditantang kesebelasannya bernama PS Fatanah.
Tanah lapangan di sana keras. Sebab tanahnya berwarna putih. Kalo tanah yang lembut biasanya berwarna hitam. Rumput lapangan cukup bagus. Di sisi utara berbatasan dengan tebing, yang di atasnya ada jalan aspal. Sementara di sisi selatan terdapat jurang yang nyaris tepat di pinggir garis lapangan. Walau ada jejeran pohon-pohon tinggi di sepanjang garis, tapi cukup sering bola menggelinding jatuh ke dalam jurang. Untung jurangnya tak cukup dalam.
Saat mau berangkat dari rumah, saya bertengkar dengan adik masalah sepatu. Kita berebut sepatu. Ada dua sepatu, yang satu berwarna pink, yang satunya kuning. Kita tidak sedang berebut warna – tentu saja. Tapi, yang pink lebih baru dan terawat. Sedang yang kuning bentuknya saja sudah tak keruan.
Akhirnya saya memakai yang kuning. Sebab adik sudah berkata: itu semua punyaku kok.
Ketika sudah berada di lapangan, tak perlu disuruh, semua langsung siap-siap pasang sepatu. Lagipula kita memang sudah telat. Tuan rumah sudah sangat siap. Saat saya mengambil kaos kaki yang tergumpal di sepatu, ada dua katak yang sedang ngobrol ringan di dalam sepatu.
Asu!
Dengan memegang ujungnya, sepatu itu saya hentak-hentakkan ke tanah. Perlu berkali-kali hentakan sampai kedua katak itu keluar. Lalu mereka bersembunyi di timbunan rumput.
Mungkin tak sampai sepuluh menit, para pemain PS Alangan – ya, termasuk saya – sudah mulai kesusahan menghirup udara. Keluhannya sama: kaki terasa berat. Seperti ada sesuatu yang menahan kaki saat ingin berlari. Kaki juga tak bebas bergerak karena memakai sepatu.
Iyalah, sehari-hari kaki menapak pasir pantai, bermanuver dengan bebas, berlari dengan enteng, lalu disuruh memakai sepatu. Kaki jadi kaku.
“Umpan terobosanmu tadi nggak aku kejar bukan karena apa-apa, udah pengap,” teman saya berkeluh saat babak pertama selesai. Dia bermain di sayap kanan.
“Iya, tiap mau lari tuh rasanya kayak di tanjakan terus,” teman saya yang lain, bermain di gelandang, menambahi.


Tentu saja narasi tentang alas kaki di sepakbola tak selalu buruk seperti itu. Masih ingat saat Euro 2016, Payet mencium sepatu Griezmann setelah menjebol gawang Islandia? Di momen itu, alas kaki dipuja dengan begitu hikmat.

Senin, 11 Juli 2016

Mourinho Tertawa Lagi



Pertanyaan yang mulai menggedor-gedor kepala saat final Euro 2016 sudah berjalan sekitar setengah jam: Lagi di mana Mourinho? Apakah dia sedang nonton bersama keluarga besar di Setubal? Atau dia sedang di kantor barunya di Old Trafford? Atau di Carrington? Apa barangkali dia juga nyempil di tribun Stade de France? Sepanjang laga saya hanya melihat sosok Luis Figo di tribun.

Tentang keberadannya, saya tak tahu pasti. Tapi, yang jelas saya yakin dia sedang tertawa. Setan baru di Old Trafford ini bergembira, karena semakin banyak setan-setan dalam sepakbola, seperti dirinya. Tawa terakhir Mourinho, yang saya ingat, adalah kesuksesan Atletico membungkam Bayern Munich di semifinal Liga Champions 2016. Dan, tentu saja, hilangnya status dirinya sebagai seorang pengangguran.

Setidaknya ada dua hal yang bikin dia ketawa lagi. Pertama, Giroud mulai frustasi karena terus diusik oleh José Fonte. Seringkali dia kalah duel sama Fonte. Yang kedua, Girezmann memang beberapa kali mendapatkan second ball. Namun setelah itu, dia terlihat bingung menentukan arah umpan atau dribbling, karena disiplin penguasaan ruang yang sangat baik dari pemain-pemain Portugal.

Mou senyum-senyum manis karena Fernando Santos mulai menjadi setan sepakbola, yang anti-sepakbola alias negative football, mengikuti jejaknya. Walau ia juga tahu, Santos belum sesetan dirinya.

Mou memang teguh menjalani takdirnya sebagai seseorang yang anti-sepakbola, karena sepakbola sudah terlalu menjemukan. Sebuah tim dianggap bermain bagus bila banyak menguasai bola, banyak tendangan ke gawang, dan dihias dengan umpan-umpan yang menghibur. Bila tim yang seperti ini menang, aka muncul frasa “sudah sepantasnya”. Sedangkan tim yang menumpuk pemainnya di belakang – meski tak asal tumpuk – bila menang, akan dicap “tak pantas menang”, dan juga “beruntung!”. Selain menang, tim sepakbola diharuskan menjadi badut, (dianggap) menghibur, bagai pertunjukan karnaval. Lihat saja negara yang bertradisi festival macam Spanyol. Ada tuntutan agar sepakbola juga berlangsung meriah, yang di hari-hari ini mudah kita lihat di wajah Barcelona. Wajar saja bila Mou murtad dari Barcelona. Sebab dia sudah muak. Dia memilih untuk menjalani belantaranya sendiri, meski terancam sendiri, bahkan dicemooh. Hingga akhirnya ia mulai membungkam para pecandu keindahan-semu sepakbola melalui Porto – klub bola di negara asalnya.

Saya masih percaya keberuntungan adalah bagian dari sepakbola. Keberuntungan muncul melalui medium-medium yang berbeda. Bisa melalui mantra-mantra seorang dukun. Kadang-kadang juga melalui ketepatan manajer tim membaca tanda-tanda alam. Namun juga bisa muncul akibat perencanaan yang taktis.

Santos tak percaya itu, juga Mourinho. Mereka percaya kemenangan dapat diraih dengan strategi yang disusun dengan baik. Sepanjang hari, taktik yang tepat untuk sebuah tim harus terus menerus dipikirkan. Data-data tim dan lawan yang akan dihadapi perlu dikumpulkan sedetail mungkin, untuk kemudian dianalisis hingga ditemukan celahnya. Meneer Van Gaal pernah berujar, Mourinho adalah orang sangat detail dalam menghimpun informasi yang dibutuhkan tim ketika dia menjadi asistennya.

Orang boleh bilang Portugal hanya bermodal beruntung bisa meraih juara Euro 2016. Tapi yang mungkin terlupakan: butuh 7 pertandingan untuk meraih piala, dan beruntung saja menjadi tidak cukup. Ketika Santos memasukkan Quaresma saat laga kontra Kroasia di menit-menit akhir, lalu mencetak gol, apakah tidak ada perhitungan yang matang dari seorang Santos? Apakah keputusan untuk menggeser Renato Sanchez ke tengah, Nani dan Quaresma melebar, lalu memainkan Eder adalah tindakan yang asal-asalan? Enak saja. Santos berpikir keras tentang itu. Di bench, ia telihat menundukkan kepala, meletakkan tangan di dua kening, menganalisis beberapa informasi baru sejak kick-off.

Di seperempat awal pertandingan, Portugal bertahan dengan cara high block yang fleksibel. Artinya, pressing terhadap lawan tidak dilakukan sejak di area lawan. Tapi hanya ketika lawan berada di area tengah dan zona-zona yang telah ditentukan oleh pelatih. Santos menentukan jebakan pressing di beberapa tempat. Yang paling banyak berperan, tentu saja William Carvalho dan Raphael. Cara bertahan yang seperti ini bisa dilawan dengan crossing diagonal, bisa dari bek tengah ataupun bek sayap. Namun Perancis justru memakai umpan-umpan pendek, atau hanya umpan vertikal ke arah Giroud. Pantulan bola dari Giroud akhirnya mudah direbut kembali oleh pemain-pemain Portugal.

Semakin jauh pertandingan berjalan, Santos kemudian memerintahkan anak asuhnya untuk bertahan dengan sistem drop deep. Sekaligus, ia merancang pertahanan Portugal untuk fokus pada penguasaan ruang. Sistem drop deep bila dimainkan dengan hanya orientasi pada ruang, akan dieksekusi dengan menjaga agar para pemain Portugal menguasai ruang di wilayah mereka. Pemain-pemain Portugal sudah tak lagi tertarik untuk merebut bola dengan cepat. Mereka lebih suka menunggu di kandang, dan menantang lawan yang berani masuk ke wilayahnya. Dominasi dari Perancis hanya menjadi sekadar dominasi, tiada arti.

Pasukan Portugal hanya akan mengaktifkan pressing bila Perancis menyerang lewat sayap. Namun kita tahu, Cedric dan Raphael bermain gemilang. William Carvalho juga sering membantu pengamanan di daerah flank. Masuknya Kingsley Coman menggantikan Payet pun tak mengubah keadaan. Anak muda yang murtad dari Juventus lalu berguru ke Robben ini hanya bisa meliuk-liuk, tapi tak kunjung mendapat ruang. Tendangan melengkungnya yang pernah menyampahi Juventus tak bekerja pada Portugal.

Di titik ini, Mourinho semakin keras tertawa. Sedangkan Perancis, wa bil khusus Deschamp, semakin frustasi.

Kalau mau main syahdu-syahduan, bagi saya, kesuksesan Portugal meraih juara Euro 2016 bukanlah persembahan buat Ronaldo. Mesik Megabintang-yang-berhak-sombong dan kelewat ambisius-arogan ini sampai berusaha mengabaikan rasa sakit di lututnya demi terus bermain di final. Menjelang berakhirnya laga, komentator berulang-ulang menyebut nama Cristiano Ronaldo, meski ia tak bermain. Tentu kita akan selalu ingat kan, muka kejam Ronaldo yang menyuruh Raphael untuk kembali masuk kelapangan dan berhenti manja-manjaan di pinggir lapangan.

Kesuksesan Portugal ini lebih layak dipersembahkan untuk Mourinho. Ini menjadi bukti bahwa Mou tak sendiri lagi. Setan-setan yang anti-sepakbola bermunculan, menyusul dirinya yang telah lebih dulu menyusuri jalan sunyi dalam perjuangan melawan hegemoni selera sepakbola. Ia akan lebih percaya diri lagi bila akan membalas cemoohan macam “Boring Boring Chelsea” yang mungkin saja bertansformasi menjadi “Boring Boring United”.

Saya kadang-kadang sempat berpikir jalan yang dilalui Mou ini serupa utopia. Sebab penyakit yang membuat orang-orang berpandangan sempit tentang keindahan sepakbola sudah sedemikian kronis. Karena mereka akan sulit menyadari bahwa, untuk menentukan langkah yang harus dilakukan striker saja, ada beribu cara. Tumpukan cara yang mungkin sebagiannya masih misteri inilah salah satu keindahan sepakbola.   

Akan tetapi, ketika berpikiran tentang utopia, saya juga teringat ucapan Fernando Birri: “Utopia berada di horizon dan saya tidak akan pernah mencapainya. Karena, jika saya berjalan 10 langkah mendekati horizon, maka ia akan menjauh 10 langkah. Dan jika saya mendekat 20 langkah, saya akan 20 langkah lebih jauh dari horizon. Alasan kita percaya pada utopia, karena ia membuat kita melangkah.

Saya percaya, Mourinho akan terus melangkah. 

Senin, 04 Juli 2016

Nikmati Saja Sepakbola

Oleh: Dandy Idwal
Source: uefa.com

Setelah lebaran tahun 2015 usai, Perseka (Persatuan Sepakbola Kalowang) akan mengikuti turnamen tahunan se-Pulau Sapudi. Pendaftaran klub-kub yang akan bertandingan dilakukan saat bulan puasa. Pembukaan turnamen ini dijadwalkan, seingat saya, dua minggu setelah lebaran selesai.

Sampai sehari sebelum lebaran, seperti desa-desa lainnya di Indonesia, orang-orang dari kota berdatangan. Ada yang harus dijemput saat sampai di dermaga, ada yang bawa motor atau mobil sendiri. Perantau, bagaimanapun, nasibnya bermacam-macam. Kalau yang sudah bertahun-tahun merantau biasanya sudah menjadi bos, sehingga kalau pulang membawa mobil. Sedangkan yang baru lulus SMA atau bahkan SMP, lalu bekerja di kota, keluarganya datang menjemput dengan motor. Beberapa perantau anyar memang ada yang ikut mobil bosnya. Tapi, tak selalu begitu. Ada juga yang sudah merantau bertahun-tahun tapi hutangnya semakin banyak.

Para perantau yang masih anyar ini, kalau mendengar akan ada turnamen bola, hampir semuanya mengajukan diri untuk bermain. Tak heran, sebab di kota mereka hanya bisa bergumul dengan rumput sintetis atau vinyl di ruang futsal yang pengap. Paling hanya para penjaga toko di Taman Puring, Jakarta Selatan, yang masih bisa bermain di lapangan Senayan. Itu pun tidak setiap hari.

Maka, ketika pelatih Perseka bertanya: “Mau ngirim berapa tim nih kita?”

“Dua tim aja. Banyak ini yang mau main,” sahut pemuda-pemuda di sekelilingnya.

Perseka pun mendaftarkan dua tim: Perseka A dan Perseka B.

Kacaunya persiapan turnamen dari panitia, membuat jadwal turnamen pun diundur satu bulan. Anak-anak kecewa. Harapan untuk merasakan atmosfer sepakbola Tarkam (antar kampung) seketika lenyap. Pupus juga keinginan untuk mendengar ocehan komentator fasih yang tidak pernah sekolah. Dan yang paling disayangkan, ini bukan Tarkam biasa. Ini Tarkam yang setiap pertandingannya diiringi world cup anthem.

Para perantau yang masih karyawan ini tidak bisa menunda keberangkatannya. Karena saat bosnya bilang berangkat, ya harus berangkat.

Ketika jadwal pertandingan hampir tiba, boro-boro dua tim, 11 pemain saja tidak ada. Maka gerilya pun dilakukan. Pelatih dan pemain yang tersisa, mencari orang di berbagai sudut desa untuk bermain sepakbola. Ada yang mengajak pamannya hingga tetangganya. Petani yang sehari-hari mencangkul sawah, mengarit rumput, dan memancing ikan juga diajak. Tukang las pun tak luput dari rayuan.

Tentu tak semuanya mau. Beberapa orang beralasan sudah tak kuat fisiknya atau ada kerjaan yang tak bisa ditinggalkan. Tapi ternyata ada juga yang secara kasat mata terlihat tak lagi punya nafas panjang, karena memang sudah tua, mau ikut turnamen.

Saat perjalanan ke lapangan pertandingan, sudah ada 11 pemain, namun hanya ada 1 cadangan. Para pemain pun berangkat dengan wajah cengar-cengir, mungkin membayangkan akan seperti apa jalannya pertandingan. Pelatih Perseka pun menyuruh supir pick up yang membawa para pemain untuk ikut bertanding.

“Tapi aku nggak punya sepatu.”

“Tenang, ada kok.”

Lima belas menit pertandingan berlangsung, salah satu pemain Perseka, sudah tua, merangkak ke pinggir lapangan. Penonton riuh dengan tawa.

“Ganti Oy...” Dia sudah tak kuat berdiri lagi, apalagi berlari. Dia merangkak dengan dada yang kembang-kempis dengan cepat. Dia pun diganti. Kemudian dia menyender di kursi dengan wajah pucat sama sekali.

Di titik sepeti ini kita bisa sadar bahwa sepakbola tidak lepas dari aspek-aspek kehidupan lain, salah satunya ekonomi. Pendanaan, sekaligus pengaturan keuangan, harus benar-benar dibenahi bila kita ingin menikmati sepakbola yang lebih baik lagi. Sumber keuangan tidak bisa lagi hanya mengandalkan sumbangan sukarela dari orang-orang kaya yang kebetulan menggilai sepakbola. Karena pada akhirnya sumber pendanaan klub yang seperti itu akan habis. Orang-orang yang dulunya menjadi penyumbang tetap di Perseka, misalnya, merasakan hal yang sama dengan para pemilik Sapi Kerapan. Semakin sering bertanding, dia akan semakin kehilangan banyak uang. Beli air minum, jamu, nyewa dukun, biaya tahlilan (istighosah) di malam hari sebelum laga, membayar pemain yang didatangkan dari luar pulau, biya sewa pick up, dan tentu ada beberapa biaya lagi. Ini bisa dibebankan hanya pada satu orang.

Kalau pemilik Sapi Kerapan masih bisa untung. Bila sapinya yang masih muda menang di Kerapan Sapi, meski hanya tingkat kecamatan, harganya bisa sampai 100-an juta rupiah. Tapi, kadang-kadang, pemilik sapi itu tidak mau menjualnya karena terlalu sayang sama sapinya.

Sehingga, kalau PSSI dan berbagai lembaga pemerintahan sudah tidak sibuk mengurusi dirinya sendiri, perlu disadari bahwa untuk membangun sepakbola nasional tidak bisa hanya dengan penggelontoran duit. Manusia-manusianya perlu dibina agar berketerampilan baik dalam hal teknis sepakbola, keuangannya, maupun bisnisnya.

Ini bukan berarti melihat sepakbola hanya dari sisi komersial. Kita memang sudah harus mulai menerima kenyataan. Sepakbola harus berbenturan dengan berbagai aspek kehidupan dan kondisi-kondisi sosial global. Sebab sepakbola pada hari ini bukan lagi sekadar pergumulan bola dengan kaki-kaki telanjang orang Tiongkok.

Namun ada sekelompok orang yang tidak senang bila sepakbola sudah bersetubuh dengan motif-motif lain. Sepakbola, bagi mereka, harus dimainkan dengan niat sesuci mungkin, sebagaimana orang-orang Tiongkong memulainya. Pujaan mereka adalah kaki telanjang anak-anak yang memainkan bola di gang-gang sempit di kota. Kaki-kaki kasar anak-anak yang bermain bola di sepetak sawah di musim kemarau dengan tanah yang tak rata atau permainan bola di pasir pantai pinggir karang, juga menjadi alasan pembelaan agar sepakbola dikembalikan pada hakikatnya.

Apalagi saat Noam Chomsky mengkritik sepakbola. Orang-orang kemudian mulai membenci sepakbola yang tersiar di berbagai saluran televisi. Filsuf asal Amrik ini menyebut sepakbola telah “mendorong kompetisi yang tidak rasional dan loyalitas yang tidak masuk akal terhadap sistem kekuasaan”. Ia juga menuding sepakbola “membangun aspek anti-sosial yang ekstrim dari psikologi manusia”. Yang paling menyesakkan, namun sebenarnya mudah disadari, sepakbola dianggapnya telah “menjauhkan orang-orang dari hal-hal lain”.

Sampai-sampai seorang John Moffit berhenti sebagai pemain American Football karena terpengaruh ucapan-ucapan Chomsky. Mahasiswa Sosiologi dari University of Wisconsin ini memutus kontrak dengan Denver Broncos pada tahun 2013. Padahal kontraknya baru habis tahun 2014. Saat memilih berhenti dari dunia olahraga, dia berencana untuk menjadi seorang public figure di bidang filsafat dan politik.

Menurut saya, dalam batasan-batasan tertentu, Chomsky benar. Tapi mungkin dia lupa bahwa manusia adalah hewan yang aneh. Mereka bisa paham bahwa dirinya terjebak sesuatu yang menyesatkan, namun tetap suka rela menikmatinya. Para penggemar bola tahu, walau tak semua, bahwa semakin mereka menggilai sepakbola, maka mereka hanya akan menambah pundi-pundi kekayaan pemilik klub. Klub memperoleh tumpukan uang dari hak siar televisi yang disumbang dari sambungan TV-TV kabel, juga pajak. Mereka juga akan semakin memperkaya Messi dan Ronaldo. Ketika membeli sepatu Nike ori, misalnya, maka bisa saja duit itu masuk ke kantong Neymar.

Jadi tidak heran bila Chomsky mengatakan bahwa sepakbola adalah bagian dari sistem kekuatan kapitalisme. Walau dalam hal ini kita harus paham betul dalil pokok kapitalisme, sebab pemahaman tentang kapitalisme sudah mulai kabur.

Para Gooners tahu bahwa mereka akan semakin dihisap uangnya oleh Stan Kroenke dengan naiknya tiket masuk Emirates – termahal di Premier League, bergantinya corak kostum tim setiap musim, dan giuran marchandise lainnya. Tapi, toh, mereka tetap datang ke Emirates, memenuhi kursi-kursinya. Ketika sudah berada di dalam stadion mungkin mereka sudah lupa dengan segala bentuk penghisapan itu jika sudah melihat assist menawan dari Özil, blok elegan Mertesacker, atau sundulan ganas dari Giroud. Banyak fans Arsenal marah karena Stan Kroenke membeli tanah pertanian dan peternakan di Texas dengan harga yang hampir sepuluh triliun rupiah, sementara pembelian pemain-pemain bintang tak kunjung dilakukan. Tapi itu terjadi di luar stadion. Itu diucapkan saat mata para Gooners tak menonton Arsenal berlaga di layar kaca. Mungkin fenomena seperti ini yang membuat Chomsky merasa para fans sepakbola memiliki loyalitas yang tidak masuk akal terhadap kekuasaan.

Sepakbola memang sudah memiliki wajah lain berupa industrialisasi. Sepakbola adalah sebuah komoditas yang menggiurkan. Sampai-sampai nabi saya, Eduardo Galeano, menyebut mantan presiden FIFA, Sepp Blatter, adalah mucikari yang rajin berkeliling dunia untuk menjajakan apa saja yang bisa dilacurkan dari sepakbola.

Tapi apakah bisa kita menikmati indahnya pergerakan tanpa bola David Silva di Manchester City bila klub itu tidak dibeli oleh Yang Mulia Mansour? Apakah mungkin klub gurem-semenjana macam Chelsea bisa juara Liga Champions jika tak disuplai duit sama milyader dari Russia? Chelsea bisa membeli Didier Drogba yang kemudian memusnahkan harapan Bayern Munich di final Liga Champions 2012. Roman Abramovich akhirnya pun senyum-senyum malu setelah bisa memegang si Kuping Lebar.

Saya lebih memilih untuk menghiraukan omongan Chomsky bila sudah mulai menonton sepakbola. Saya rela dihisap, bila yang menghisap adalah sepakbola. Bodoh amat. Ketika Euro 2016 mulai bergulir di dini hari yang sunyi, mata yang di tengah-tengah malam mulai terkantuk kembali cengar. Apalagi kalau sudah melihat Ramsey yang mulai menari-nari di lapangan. Begitu lembut, bagai penari Tari Jogja yang mulai menekuk kaki, melentik jari, menyorongkan kepala agak condong ke kiri, dan tersenyum pada saya. Menyegarkan.

Saya juga tidak habis pikir dengan orang-orang yang tidak lagi menonton sepakbola karena hal-hal rasional seperti yang diucap Chomsky, atau yang mereka rasakan sendiri. Setia pada pikiran nalar boleh-boleh saja, tapi kok ya sampai meninggalkan sepakbola. Dan parahnya, menghasut teman-temannya.

Kalau Tan Malaka menyarankan agar pendidikan disudahi saja bila para kaum-kaum terpelajar semakin jauh dari kehidupan masyarakatnya sendiri, saya juga menyarankan agar para kaum intelektual-rasional-ngehe itu berhenti ngomongin bola bila pada akhirnya murtad juga lalu mengajak yang lainnya.

Singkatnya, nikmati saja sepakbola, bagaimanapun caranya.

Kamis, 30 Juni 2016

Biarkan Ronaldo Arogan



Oleh: Dandy Idwal Muad
Courtesy: uefa.com

Banyak yang menyebut kalau Portugal akan menjadi One-Man Team. Pasalnya, ada Megabintang-yang-berhak-sombong di tubuh Seleccao. Siapa lagi kalo bukan Ronaldo. Dia secara formal bergerak di sayap kiri. Tapi juga sering pindah posisi sesuka hati. Jarang menyisir garis tepi, dia lebih sering menusuk ke sisi dalam, mencari ruang, lalu menghantam bola dengan punggung kakinya hingga melesat ke mulut gawang. Sepakbola modern menamai pemain seperti ini sebagai inverted winger.

Pertanyaanya, memang kenapa kalau sebuah tim hanya bertumpu pada satu orang? Toh, Ronaldo memang memiliki kemampuan itu. Dan dia menyadarinya. Tidak seperti alien dari Argentina yang sering bengong itu. Messi, sang alien, yang baru saja gagal lagi mempersembahkan piala bagi negaranya, sering berkelih bahwa tidak ada yang mendukungnya di skuat Argentina, tidak seperti di Barcelona. Apalagi para pemujanya. Mereka akan mengarang sejuta alasan untuk mewajarkan kekalahan-kekalahan yang diterima Messi bersama Albicelestes. “Messi bertarung sendirian”. “Nggak ada yang ngumpan sih, nggak kayak Inesta sama Rakitic”. “Messi kecapekan”. Begitulah beberapa ocehan dari tim hore Messi.

Katanya alien? Berarti dia bisa melakukan hal-hal yang tak mampu dicapai oleh manusia dong? Boleh-boleh saja dong warga Argentina berharap dia melakukan keajaiban untuk negaranya – walau berjuang seorang diri – demi rindu kronis mereka terhadap trofi? Sayangnya, Messi tak menyadari bahwa, kemampuan luar biasanya juga menimbulkan tanggung jawab besar. Dia sudah terlanjur dinobatkan sebagai pahlawan yang diharapkan bisa mengembalikan kejayaan Argentina. Pahlawan yang, setelah gagal (lagi) di sebuah partai final, hampir mencapai rasa putus asa. Untung saja warga Argentina masih percaya pahlawan itu akan berhasil suatu hari nanti. Mereka berbondong-bondong ke stadion, mengungkapkan harapan itu.

Ronaldo? Dia sadar. Sama sekali tidak mencetak gol di babak penyisihan grup Euro 2016, Ronaldo kesal. Media-media mulai menyorotinya, melontarkan pertanyaan-pertanyaan retoris tentang pailit gol-golnya. Tentu saja media menyinggung tentang statusnya sebagai salah satu pemain terbaik dunia, yang tidak terlihat taringnya. Tapi dengan begini, jurnalis-jurnalis itu sebenarnya sedang bunuh diri, siap-siap dibungkam. Atau, mereka memang sengaja?

Ingat-ingat saja saat Real Madrid dipecundangi Atletico di pergelaran La Liga musim lalu. Griezmann membawa Atletico berjaya di rumput Bernabeu. Beberapa detik saat gol itu, kamera membidik wajah Ronaldo – yang memang sudah seharusnya. Tatapan matanya menyiratkan kekecewaan sekaligus kemarahan.

Ketika menjawab pertanyaan wartawan usai laga, yang tentu saja tentang puasa golnya, dia berkata: “seandainya pemain-pemain Madrid yang lain bermain satu level dengan saya, kita sudah berada di puncak.” Begitu angkuh, arogan, tapi penuh pembuktian. Terbukti dengan golnya yang menggilas AS Roma di pertandingan selanjutnya. Sejak itulah saya setuju dia disebut sebagai Megabintang-yang-berhak-sombong.

Ketika bermain untuk timnas Portugal, dia pun tahu, dia hanya bermain dengan cecunguk-cecunguk yang hanya sebagai pelengkap tim. Maka, dia harus mengambil tanggung jawab. Kesuksesan Portugal berada di tangan dirinya. Dia tidak mencari-cari alasan bila Portugal menemui rintangan dengan menyalahkan pemain-pemain lain. Ketika Dzsudzsák, kapten Hungaria, mencetak gol keduanya ke gawang portugal, hanya berselang 5 menit setelah gol Ronaldo, terlihat Ronaldo begitu emosi. Dia menghentak-hentak rumput lapangan dengan kakinya, mengayun kepalan tangannya, sambil memasang wajah penuh amarah. Dia tidak marah pada Rui Patrício karena gagal memblok bola yang telah lebih dulu terpantul pada kaki Nani. Dia juga tak marah pada Nani. Dia marah pada dirinya sendiri. “Mengapa aku tidak mencetak lebih banyak gol?”

Kenyataan bahwa Portugal benar-benar menjadi One-Man Team, membuat permainan mereka dicap membosankan oleh para pecandu keindahan-semu sepakbola. Sebab, Portugal sangat bertumpu pada Ronaldo. Ini membuat Seleccao tak bermain secara kolektif. Alur serangan mereka tak terusun dengan rapi. Gol Quaresma ke gawang Croatia di detik extra time juga berasal dari pantulan tendangan Ronaldo.

Tapi ini kan hanya omongan para klimis yang duduk di tribun eksekutif. Bukan mereka-mereka yang menonton bola dari belakang gawang dengan penuh emosional. Mereka akan berujar kalo Croatia, meski kalah, adalah “the people winner”. Ukurannya? Karena Croatia lebih banyak menguasai bola, lebih menyerang. Ini bisa terlihat dari penguasaan bola Croatia sebanyak 59% dibandingkan Portugal yang hanya 41%. Total tembakan Croatia mencapai 17 kali, sedangkan Portugal hanya 6 kali dengan 2 kali shot on goal. Tapi apalah artinya penguasaan bola yang tinggi dan unggul jumlah tembakan bila tidak menang? Pujaan dari pecandu keindahan-semu itu toh bakal hilang dibawa angin. Dan fakta yang akan tetap teringat adalah Croatia tak lolos ke quarter-finals.

Dalam laga internasional, yang sejatinya dibutuhkan oleh setiap timnas adalah menang, dengan cara apapun. Sebab persiapan sebuah timnas tidaklah sepanjang klub liga. Ekstrimnya, keindahan-semu yang sudah meracuni banyak orang itu harus dinaifkan dari sepakbola. Kalau tidak percaya sila tanya Mourinho.

Tapi toh, Ronaldo juga tak egois-egois amat. Kadang-kadang dia juga memberi umpan matang kepada rekannya. Masih ingat assist ajaibnya kepada Nani saat melawan Hungaria di babak 16 besar Euro 2016?

Portugal bisa menerjang pulang Polandia di babak 8 besar Euro 2016 nanti bila ada sokongan penuh pada keangkuhan Ronaldo. Dia harus dibiarkan sombong, arogan, rakus, hingga menjadi megalomaniak. Pemain-pemain yang lain hanya perlu menyiapkan karpet merah dan menjaganya dengan ketat agar Ronaldo bisa melepas segala hasratnya. Tentu saja saya berharap hal ini berjalan mulus. Karena saya memasang Ronaldo sebagai kapten di tim Euro Fantasy, Jancuk CF.

Inggris yang Lupa Diri



Oleh: Dandy Idwal Muad


Courtesy: uefa.com




Saya telat 4 menit saat Inggris menghadapi Islandia di babak 16 besar Euro 2016. Karena, setelah menonton Italia vs Spanyol yang sudah sejak menit pertama Spanyol terlihat kebingungan, saya dan teman-teman bermain Winning Eleven (WE). Saya nggak suka dengan game play WE. Soalnya saya terbiasa dengan FIFA, yang mempunyai slogan “taste the real”, ketimbang PES yang game play-nya sangat buruk, tak nyata, khayal. Alih-alih FIFA, PES saja belum ada yang punya di kampung ini. Game Play WE, wah, lebih buruk lagi daripada PES. Pakai saja Real Mardid saat bermain WE, dan akan menang dengan hanya memakai satu orang: Ronaldo.

Saat mengganti TV ke siaran Euro, Rooney sudah bersiap di depan titik putih. Penalti