Senin, 11 Juli 2016

Mourinho Tertawa Lagi



Pertanyaan yang mulai menggedor-gedor kepala saat final Euro 2016 sudah berjalan sekitar setengah jam: Lagi di mana Mourinho? Apakah dia sedang nonton bersama keluarga besar di Setubal? Atau dia sedang di kantor barunya di Old Trafford? Atau di Carrington? Apa barangkali dia juga nyempil di tribun Stade de France? Sepanjang laga saya hanya melihat sosok Luis Figo di tribun.

Tentang keberadannya, saya tak tahu pasti. Tapi, yang jelas saya yakin dia sedang tertawa. Setan baru di Old Trafford ini bergembira, karena semakin banyak setan-setan dalam sepakbola, seperti dirinya. Tawa terakhir Mourinho, yang saya ingat, adalah kesuksesan Atletico membungkam Bayern Munich di semifinal Liga Champions 2016. Dan, tentu saja, hilangnya status dirinya sebagai seorang pengangguran.

Setidaknya ada dua hal yang bikin dia ketawa lagi. Pertama, Giroud mulai frustasi karena terus diusik oleh José Fonte. Seringkali dia kalah duel sama Fonte. Yang kedua, Girezmann memang beberapa kali mendapatkan second ball. Namun setelah itu, dia terlihat bingung menentukan arah umpan atau dribbling, karena disiplin penguasaan ruang yang sangat baik dari pemain-pemain Portugal.

Mou senyum-senyum manis karena Fernando Santos mulai menjadi setan sepakbola, yang anti-sepakbola alias negative football, mengikuti jejaknya. Walau ia juga tahu, Santos belum sesetan dirinya.

Mou memang teguh menjalani takdirnya sebagai seseorang yang anti-sepakbola, karena sepakbola sudah terlalu menjemukan. Sebuah tim dianggap bermain bagus bila banyak menguasai bola, banyak tendangan ke gawang, dan dihias dengan umpan-umpan yang menghibur. Bila tim yang seperti ini menang, aka muncul frasa “sudah sepantasnya”. Sedangkan tim yang menumpuk pemainnya di belakang – meski tak asal tumpuk – bila menang, akan dicap “tak pantas menang”, dan juga “beruntung!”. Selain menang, tim sepakbola diharuskan menjadi badut, (dianggap) menghibur, bagai pertunjukan karnaval. Lihat saja negara yang bertradisi festival macam Spanyol. Ada tuntutan agar sepakbola juga berlangsung meriah, yang di hari-hari ini mudah kita lihat di wajah Barcelona. Wajar saja bila Mou murtad dari Barcelona. Sebab dia sudah muak. Dia memilih untuk menjalani belantaranya sendiri, meski terancam sendiri, bahkan dicemooh. Hingga akhirnya ia mulai membungkam para pecandu keindahan-semu sepakbola melalui Porto – klub bola di negara asalnya.

Saya masih percaya keberuntungan adalah bagian dari sepakbola. Keberuntungan muncul melalui medium-medium yang berbeda. Bisa melalui mantra-mantra seorang dukun. Kadang-kadang juga melalui ketepatan manajer tim membaca tanda-tanda alam. Namun juga bisa muncul akibat perencanaan yang taktis.

Santos tak percaya itu, juga Mourinho. Mereka percaya kemenangan dapat diraih dengan strategi yang disusun dengan baik. Sepanjang hari, taktik yang tepat untuk sebuah tim harus terus menerus dipikirkan. Data-data tim dan lawan yang akan dihadapi perlu dikumpulkan sedetail mungkin, untuk kemudian dianalisis hingga ditemukan celahnya. Meneer Van Gaal pernah berujar, Mourinho adalah orang sangat detail dalam menghimpun informasi yang dibutuhkan tim ketika dia menjadi asistennya.

Orang boleh bilang Portugal hanya bermodal beruntung bisa meraih juara Euro 2016. Tapi yang mungkin terlupakan: butuh 7 pertandingan untuk meraih piala, dan beruntung saja menjadi tidak cukup. Ketika Santos memasukkan Quaresma saat laga kontra Kroasia di menit-menit akhir, lalu mencetak gol, apakah tidak ada perhitungan yang matang dari seorang Santos? Apakah keputusan untuk menggeser Renato Sanchez ke tengah, Nani dan Quaresma melebar, lalu memainkan Eder adalah tindakan yang asal-asalan? Enak saja. Santos berpikir keras tentang itu. Di bench, ia telihat menundukkan kepala, meletakkan tangan di dua kening, menganalisis beberapa informasi baru sejak kick-off.

Di seperempat awal pertandingan, Portugal bertahan dengan cara high block yang fleksibel. Artinya, pressing terhadap lawan tidak dilakukan sejak di area lawan. Tapi hanya ketika lawan berada di area tengah dan zona-zona yang telah ditentukan oleh pelatih. Santos menentukan jebakan pressing di beberapa tempat. Yang paling banyak berperan, tentu saja William Carvalho dan Raphael. Cara bertahan yang seperti ini bisa dilawan dengan crossing diagonal, bisa dari bek tengah ataupun bek sayap. Namun Perancis justru memakai umpan-umpan pendek, atau hanya umpan vertikal ke arah Giroud. Pantulan bola dari Giroud akhirnya mudah direbut kembali oleh pemain-pemain Portugal.

Semakin jauh pertandingan berjalan, Santos kemudian memerintahkan anak asuhnya untuk bertahan dengan sistem drop deep. Sekaligus, ia merancang pertahanan Portugal untuk fokus pada penguasaan ruang. Sistem drop deep bila dimainkan dengan hanya orientasi pada ruang, akan dieksekusi dengan menjaga agar para pemain Portugal menguasai ruang di wilayah mereka. Pemain-pemain Portugal sudah tak lagi tertarik untuk merebut bola dengan cepat. Mereka lebih suka menunggu di kandang, dan menantang lawan yang berani masuk ke wilayahnya. Dominasi dari Perancis hanya menjadi sekadar dominasi, tiada arti.

Pasukan Portugal hanya akan mengaktifkan pressing bila Perancis menyerang lewat sayap. Namun kita tahu, Cedric dan Raphael bermain gemilang. William Carvalho juga sering membantu pengamanan di daerah flank. Masuknya Kingsley Coman menggantikan Payet pun tak mengubah keadaan. Anak muda yang murtad dari Juventus lalu berguru ke Robben ini hanya bisa meliuk-liuk, tapi tak kunjung mendapat ruang. Tendangan melengkungnya yang pernah menyampahi Juventus tak bekerja pada Portugal.

Di titik ini, Mourinho semakin keras tertawa. Sedangkan Perancis, wa bil khusus Deschamp, semakin frustasi.

Kalau mau main syahdu-syahduan, bagi saya, kesuksesan Portugal meraih juara Euro 2016 bukanlah persembahan buat Ronaldo. Mesik Megabintang-yang-berhak-sombong dan kelewat ambisius-arogan ini sampai berusaha mengabaikan rasa sakit di lututnya demi terus bermain di final. Menjelang berakhirnya laga, komentator berulang-ulang menyebut nama Cristiano Ronaldo, meski ia tak bermain. Tentu kita akan selalu ingat kan, muka kejam Ronaldo yang menyuruh Raphael untuk kembali masuk kelapangan dan berhenti manja-manjaan di pinggir lapangan.

Kesuksesan Portugal ini lebih layak dipersembahkan untuk Mourinho. Ini menjadi bukti bahwa Mou tak sendiri lagi. Setan-setan yang anti-sepakbola bermunculan, menyusul dirinya yang telah lebih dulu menyusuri jalan sunyi dalam perjuangan melawan hegemoni selera sepakbola. Ia akan lebih percaya diri lagi bila akan membalas cemoohan macam “Boring Boring Chelsea” yang mungkin saja bertansformasi menjadi “Boring Boring United”.

Saya kadang-kadang sempat berpikir jalan yang dilalui Mou ini serupa utopia. Sebab penyakit yang membuat orang-orang berpandangan sempit tentang keindahan sepakbola sudah sedemikian kronis. Karena mereka akan sulit menyadari bahwa, untuk menentukan langkah yang harus dilakukan striker saja, ada beribu cara. Tumpukan cara yang mungkin sebagiannya masih misteri inilah salah satu keindahan sepakbola.   

Akan tetapi, ketika berpikiran tentang utopia, saya juga teringat ucapan Fernando Birri: “Utopia berada di horizon dan saya tidak akan pernah mencapainya. Karena, jika saya berjalan 10 langkah mendekati horizon, maka ia akan menjauh 10 langkah. Dan jika saya mendekat 20 langkah, saya akan 20 langkah lebih jauh dari horizon. Alasan kita percaya pada utopia, karena ia membuat kita melangkah.

Saya percaya, Mourinho akan terus melangkah. 

Senin, 04 Juli 2016

Nikmati Saja Sepakbola

Oleh: Dandy Idwal
Source: uefa.com

Setelah lebaran tahun 2015 usai, Perseka (Persatuan Sepakbola Kalowang) akan mengikuti turnamen tahunan se-Pulau Sapudi. Pendaftaran klub-kub yang akan bertandingan dilakukan saat bulan puasa. Pembukaan turnamen ini dijadwalkan, seingat saya, dua minggu setelah lebaran selesai.

Sampai sehari sebelum lebaran, seperti desa-desa lainnya di Indonesia, orang-orang dari kota berdatangan. Ada yang harus dijemput saat sampai di dermaga, ada yang bawa motor atau mobil sendiri. Perantau, bagaimanapun, nasibnya bermacam-macam. Kalau yang sudah bertahun-tahun merantau biasanya sudah menjadi bos, sehingga kalau pulang membawa mobil. Sedangkan yang baru lulus SMA atau bahkan SMP, lalu bekerja di kota, keluarganya datang menjemput dengan motor. Beberapa perantau anyar memang ada yang ikut mobil bosnya. Tapi, tak selalu begitu. Ada juga yang sudah merantau bertahun-tahun tapi hutangnya semakin banyak.

Para perantau yang masih anyar ini, kalau mendengar akan ada turnamen bola, hampir semuanya mengajukan diri untuk bermain. Tak heran, sebab di kota mereka hanya bisa bergumul dengan rumput sintetis atau vinyl di ruang futsal yang pengap. Paling hanya para penjaga toko di Taman Puring, Jakarta Selatan, yang masih bisa bermain di lapangan Senayan. Itu pun tidak setiap hari.

Maka, ketika pelatih Perseka bertanya: “Mau ngirim berapa tim nih kita?”

“Dua tim aja. Banyak ini yang mau main,” sahut pemuda-pemuda di sekelilingnya.

Perseka pun mendaftarkan dua tim: Perseka A dan Perseka B.

Kacaunya persiapan turnamen dari panitia, membuat jadwal turnamen pun diundur satu bulan. Anak-anak kecewa. Harapan untuk merasakan atmosfer sepakbola Tarkam (antar kampung) seketika lenyap. Pupus juga keinginan untuk mendengar ocehan komentator fasih yang tidak pernah sekolah. Dan yang paling disayangkan, ini bukan Tarkam biasa. Ini Tarkam yang setiap pertandingannya diiringi world cup anthem.

Para perantau yang masih karyawan ini tidak bisa menunda keberangkatannya. Karena saat bosnya bilang berangkat, ya harus berangkat.

Ketika jadwal pertandingan hampir tiba, boro-boro dua tim, 11 pemain saja tidak ada. Maka gerilya pun dilakukan. Pelatih dan pemain yang tersisa, mencari orang di berbagai sudut desa untuk bermain sepakbola. Ada yang mengajak pamannya hingga tetangganya. Petani yang sehari-hari mencangkul sawah, mengarit rumput, dan memancing ikan juga diajak. Tukang las pun tak luput dari rayuan.

Tentu tak semuanya mau. Beberapa orang beralasan sudah tak kuat fisiknya atau ada kerjaan yang tak bisa ditinggalkan. Tapi ternyata ada juga yang secara kasat mata terlihat tak lagi punya nafas panjang, karena memang sudah tua, mau ikut turnamen.

Saat perjalanan ke lapangan pertandingan, sudah ada 11 pemain, namun hanya ada 1 cadangan. Para pemain pun berangkat dengan wajah cengar-cengir, mungkin membayangkan akan seperti apa jalannya pertandingan. Pelatih Perseka pun menyuruh supir pick up yang membawa para pemain untuk ikut bertanding.

“Tapi aku nggak punya sepatu.”

“Tenang, ada kok.”

Lima belas menit pertandingan berlangsung, salah satu pemain Perseka, sudah tua, merangkak ke pinggir lapangan. Penonton riuh dengan tawa.

“Ganti Oy...” Dia sudah tak kuat berdiri lagi, apalagi berlari. Dia merangkak dengan dada yang kembang-kempis dengan cepat. Dia pun diganti. Kemudian dia menyender di kursi dengan wajah pucat sama sekali.

Di titik sepeti ini kita bisa sadar bahwa sepakbola tidak lepas dari aspek-aspek kehidupan lain, salah satunya ekonomi. Pendanaan, sekaligus pengaturan keuangan, harus benar-benar dibenahi bila kita ingin menikmati sepakbola yang lebih baik lagi. Sumber keuangan tidak bisa lagi hanya mengandalkan sumbangan sukarela dari orang-orang kaya yang kebetulan menggilai sepakbola. Karena pada akhirnya sumber pendanaan klub yang seperti itu akan habis. Orang-orang yang dulunya menjadi penyumbang tetap di Perseka, misalnya, merasakan hal yang sama dengan para pemilik Sapi Kerapan. Semakin sering bertanding, dia akan semakin kehilangan banyak uang. Beli air minum, jamu, nyewa dukun, biaya tahlilan (istighosah) di malam hari sebelum laga, membayar pemain yang didatangkan dari luar pulau, biya sewa pick up, dan tentu ada beberapa biaya lagi. Ini bisa dibebankan hanya pada satu orang.

Kalau pemilik Sapi Kerapan masih bisa untung. Bila sapinya yang masih muda menang di Kerapan Sapi, meski hanya tingkat kecamatan, harganya bisa sampai 100-an juta rupiah. Tapi, kadang-kadang, pemilik sapi itu tidak mau menjualnya karena terlalu sayang sama sapinya.

Sehingga, kalau PSSI dan berbagai lembaga pemerintahan sudah tidak sibuk mengurusi dirinya sendiri, perlu disadari bahwa untuk membangun sepakbola nasional tidak bisa hanya dengan penggelontoran duit. Manusia-manusianya perlu dibina agar berketerampilan baik dalam hal teknis sepakbola, keuangannya, maupun bisnisnya.

Ini bukan berarti melihat sepakbola hanya dari sisi komersial. Kita memang sudah harus mulai menerima kenyataan. Sepakbola harus berbenturan dengan berbagai aspek kehidupan dan kondisi-kondisi sosial global. Sebab sepakbola pada hari ini bukan lagi sekadar pergumulan bola dengan kaki-kaki telanjang orang Tiongkok.

Namun ada sekelompok orang yang tidak senang bila sepakbola sudah bersetubuh dengan motif-motif lain. Sepakbola, bagi mereka, harus dimainkan dengan niat sesuci mungkin, sebagaimana orang-orang Tiongkong memulainya. Pujaan mereka adalah kaki telanjang anak-anak yang memainkan bola di gang-gang sempit di kota. Kaki-kaki kasar anak-anak yang bermain bola di sepetak sawah di musim kemarau dengan tanah yang tak rata atau permainan bola di pasir pantai pinggir karang, juga menjadi alasan pembelaan agar sepakbola dikembalikan pada hakikatnya.

Apalagi saat Noam Chomsky mengkritik sepakbola. Orang-orang kemudian mulai membenci sepakbola yang tersiar di berbagai saluran televisi. Filsuf asal Amrik ini menyebut sepakbola telah “mendorong kompetisi yang tidak rasional dan loyalitas yang tidak masuk akal terhadap sistem kekuasaan”. Ia juga menuding sepakbola “membangun aspek anti-sosial yang ekstrim dari psikologi manusia”. Yang paling menyesakkan, namun sebenarnya mudah disadari, sepakbola dianggapnya telah “menjauhkan orang-orang dari hal-hal lain”.

Sampai-sampai seorang John Moffit berhenti sebagai pemain American Football karena terpengaruh ucapan-ucapan Chomsky. Mahasiswa Sosiologi dari University of Wisconsin ini memutus kontrak dengan Denver Broncos pada tahun 2013. Padahal kontraknya baru habis tahun 2014. Saat memilih berhenti dari dunia olahraga, dia berencana untuk menjadi seorang public figure di bidang filsafat dan politik.

Menurut saya, dalam batasan-batasan tertentu, Chomsky benar. Tapi mungkin dia lupa bahwa manusia adalah hewan yang aneh. Mereka bisa paham bahwa dirinya terjebak sesuatu yang menyesatkan, namun tetap suka rela menikmatinya. Para penggemar bola tahu, walau tak semua, bahwa semakin mereka menggilai sepakbola, maka mereka hanya akan menambah pundi-pundi kekayaan pemilik klub. Klub memperoleh tumpukan uang dari hak siar televisi yang disumbang dari sambungan TV-TV kabel, juga pajak. Mereka juga akan semakin memperkaya Messi dan Ronaldo. Ketika membeli sepatu Nike ori, misalnya, maka bisa saja duit itu masuk ke kantong Neymar.

Jadi tidak heran bila Chomsky mengatakan bahwa sepakbola adalah bagian dari sistem kekuatan kapitalisme. Walau dalam hal ini kita harus paham betul dalil pokok kapitalisme, sebab pemahaman tentang kapitalisme sudah mulai kabur.

Para Gooners tahu bahwa mereka akan semakin dihisap uangnya oleh Stan Kroenke dengan naiknya tiket masuk Emirates – termahal di Premier League, bergantinya corak kostum tim setiap musim, dan giuran marchandise lainnya. Tapi, toh, mereka tetap datang ke Emirates, memenuhi kursi-kursinya. Ketika sudah berada di dalam stadion mungkin mereka sudah lupa dengan segala bentuk penghisapan itu jika sudah melihat assist menawan dari Özil, blok elegan Mertesacker, atau sundulan ganas dari Giroud. Banyak fans Arsenal marah karena Stan Kroenke membeli tanah pertanian dan peternakan di Texas dengan harga yang hampir sepuluh triliun rupiah, sementara pembelian pemain-pemain bintang tak kunjung dilakukan. Tapi itu terjadi di luar stadion. Itu diucapkan saat mata para Gooners tak menonton Arsenal berlaga di layar kaca. Mungkin fenomena seperti ini yang membuat Chomsky merasa para fans sepakbola memiliki loyalitas yang tidak masuk akal terhadap kekuasaan.

Sepakbola memang sudah memiliki wajah lain berupa industrialisasi. Sepakbola adalah sebuah komoditas yang menggiurkan. Sampai-sampai nabi saya, Eduardo Galeano, menyebut mantan presiden FIFA, Sepp Blatter, adalah mucikari yang rajin berkeliling dunia untuk menjajakan apa saja yang bisa dilacurkan dari sepakbola.

Tapi apakah bisa kita menikmati indahnya pergerakan tanpa bola David Silva di Manchester City bila klub itu tidak dibeli oleh Yang Mulia Mansour? Apakah mungkin klub gurem-semenjana macam Chelsea bisa juara Liga Champions jika tak disuplai duit sama milyader dari Russia? Chelsea bisa membeli Didier Drogba yang kemudian memusnahkan harapan Bayern Munich di final Liga Champions 2012. Roman Abramovich akhirnya pun senyum-senyum malu setelah bisa memegang si Kuping Lebar.

Saya lebih memilih untuk menghiraukan omongan Chomsky bila sudah mulai menonton sepakbola. Saya rela dihisap, bila yang menghisap adalah sepakbola. Bodoh amat. Ketika Euro 2016 mulai bergulir di dini hari yang sunyi, mata yang di tengah-tengah malam mulai terkantuk kembali cengar. Apalagi kalau sudah melihat Ramsey yang mulai menari-nari di lapangan. Begitu lembut, bagai penari Tari Jogja yang mulai menekuk kaki, melentik jari, menyorongkan kepala agak condong ke kiri, dan tersenyum pada saya. Menyegarkan.

Saya juga tidak habis pikir dengan orang-orang yang tidak lagi menonton sepakbola karena hal-hal rasional seperti yang diucap Chomsky, atau yang mereka rasakan sendiri. Setia pada pikiran nalar boleh-boleh saja, tapi kok ya sampai meninggalkan sepakbola. Dan parahnya, menghasut teman-temannya.

Kalau Tan Malaka menyarankan agar pendidikan disudahi saja bila para kaum-kaum terpelajar semakin jauh dari kehidupan masyarakatnya sendiri, saya juga menyarankan agar para kaum intelektual-rasional-ngehe itu berhenti ngomongin bola bila pada akhirnya murtad juga lalu mengajak yang lainnya.

Singkatnya, nikmati saja sepakbola, bagaimanapun caranya.