![]() |
Pertanyaan yang mulai
menggedor-gedor kepala saat final Euro 2016 sudah berjalan sekitar setengah jam:
Lagi di mana Mourinho? Apakah dia sedang nonton bersama keluarga besar di
Setubal? Atau dia sedang di kantor barunya di Old Trafford? Atau di Carrington?
Apa barangkali dia juga nyempil di tribun Stade de France? Sepanjang laga saya
hanya melihat sosok Luis Figo di tribun.
Tentang keberadannya,
saya tak tahu pasti. Tapi, yang jelas saya yakin dia sedang tertawa. Setan baru
di Old Trafford ini bergembira, karena semakin banyak setan-setan dalam
sepakbola, seperti dirinya. Tawa terakhir Mourinho, yang saya ingat, adalah
kesuksesan Atletico membungkam Bayern Munich di semifinal Liga Champions 2016.
Dan, tentu saja, hilangnya status dirinya sebagai seorang pengangguran.
Setidaknya ada
dua hal yang bikin dia ketawa lagi. Pertama, Giroud mulai frustasi karena
terus diusik oleh José Fonte.
Seringkali dia kalah duel sama Fonte. Yang kedua, Girezmann memang beberapa
kali mendapatkan second ball. Namun setelah
itu, dia terlihat bingung menentukan arah umpan atau dribbling, karena disiplin penguasaan ruang yang sangat baik dari
pemain-pemain Portugal.
Mou senyum-senyum
manis karena Fernando Santos mulai menjadi setan sepakbola, yang anti-sepakbola
alias negative football, mengikuti
jejaknya. Walau ia juga tahu, Santos belum sesetan dirinya.
Mou memang teguh
menjalani takdirnya sebagai seseorang yang anti-sepakbola, karena sepakbola sudah
terlalu menjemukan. Sebuah tim dianggap bermain bagus bila banyak menguasai
bola, banyak tendangan ke gawang, dan dihias dengan umpan-umpan yang menghibur.
Bila tim yang seperti ini menang, aka muncul frasa “sudah sepantasnya”. Sedangkan
tim yang menumpuk pemainnya di belakang – meski tak asal tumpuk – bila menang,
akan dicap “tak pantas menang”, dan juga “beruntung!”. Selain menang, tim
sepakbola diharuskan menjadi badut, (dianggap) menghibur, bagai pertunjukan
karnaval. Lihat saja negara yang bertradisi festival macam Spanyol. Ada
tuntutan agar sepakbola juga berlangsung meriah, yang di hari-hari ini mudah
kita lihat di wajah Barcelona. Wajar saja bila Mou murtad dari Barcelona. Sebab
dia sudah muak. Dia memilih untuk menjalani belantaranya sendiri, meski
terancam sendiri, bahkan dicemooh. Hingga akhirnya ia mulai membungkam para
pecandu keindahan-semu sepakbola melalui Porto – klub bola di negara asalnya.
Saya masih percaya
keberuntungan adalah bagian dari sepakbola. Keberuntungan muncul melalui
medium-medium yang berbeda. Bisa melalui mantra-mantra seorang dukun. Kadang-kadang
juga melalui ketepatan manajer tim membaca tanda-tanda alam. Namun juga bisa
muncul akibat perencanaan yang taktis.
Santos tak
percaya itu, juga Mourinho. Mereka percaya kemenangan dapat diraih dengan
strategi yang disusun dengan baik. Sepanjang hari, taktik yang tepat untuk
sebuah tim harus terus menerus dipikirkan. Data-data tim dan lawan yang akan
dihadapi perlu dikumpulkan sedetail mungkin, untuk kemudian dianalisis hingga
ditemukan celahnya. Meneer Van Gaal pernah berujar, Mourinho adalah orang sangat
detail dalam menghimpun informasi yang dibutuhkan tim ketika dia menjadi
asistennya.
Orang boleh
bilang Portugal hanya bermodal beruntung bisa meraih juara Euro 2016. Tapi yang
mungkin terlupakan: butuh 7 pertandingan untuk meraih piala, dan beruntung saja
menjadi tidak cukup. Ketika Santos memasukkan Quaresma saat laga kontra
Kroasia di menit-menit akhir, lalu mencetak gol, apakah tidak ada perhitungan
yang matang dari seorang Santos? Apakah keputusan untuk menggeser Renato
Sanchez ke tengah, Nani dan Quaresma melebar, lalu memainkan Eder adalah
tindakan yang asal-asalan? Enak saja. Santos berpikir keras tentang itu. Di bench, ia telihat menundukkan kepala, meletakkan tangan di dua kening,
menganalisis beberapa informasi baru sejak kick-off.
Di seperempat
awal pertandingan, Portugal bertahan dengan cara high block yang fleksibel. Artinya, pressing terhadap lawan tidak dilakukan sejak di area lawan. Tapi
hanya ketika lawan berada di area tengah dan zona-zona yang telah ditentukan
oleh pelatih. Santos menentukan jebakan pressing
di beberapa tempat. Yang paling banyak berperan, tentu saja William
Carvalho dan Raphael. Cara bertahan yang seperti ini bisa dilawan dengan crossing diagonal, bisa dari bek tengah
ataupun bek sayap. Namun Perancis justru memakai umpan-umpan pendek, atau hanya
umpan vertikal ke arah Giroud. Pantulan bola dari Giroud akhirnya mudah direbut
kembali oleh pemain-pemain Portugal.
Semakin jauh
pertandingan berjalan, Santos kemudian memerintahkan anak asuhnya untuk bertahan dengan sistem drop deep. Sekaligus, ia merancang
pertahanan Portugal untuk fokus pada penguasaan ruang. Sistem drop deep bila dimainkan dengan hanya
orientasi pada ruang, akan dieksekusi dengan menjaga agar para pemain Portugal
menguasai ruang di wilayah mereka. Pemain-pemain Portugal sudah tak lagi
tertarik untuk merebut bola dengan cepat. Mereka lebih suka menunggu di
kandang, dan menantang lawan yang berani masuk ke wilayahnya. Dominasi dari
Perancis hanya menjadi sekadar dominasi, tiada arti.
Pasukan Portugal hanya
akan mengaktifkan pressing bila
Perancis menyerang lewat sayap. Namun kita tahu, Cedric dan Raphael bermain
gemilang. William Carvalho juga sering membantu pengamanan di daerah flank. Masuknya Kingsley Coman
menggantikan Payet pun tak mengubah keadaan. Anak muda yang murtad dari Juventus
lalu berguru ke Robben ini hanya bisa meliuk-liuk, tapi tak kunjung mendapat
ruang. Tendangan melengkungnya yang pernah menyampahi Juventus tak bekerja pada
Portugal.
Di titik ini,
Mourinho semakin keras tertawa. Sedangkan Perancis, wa bil khusus Deschamp,
semakin frustasi.
Kalau mau main
syahdu-syahduan, bagi saya, kesuksesan Portugal meraih juara Euro 2016 bukanlah
persembahan buat Ronaldo. Mesik Megabintang-yang-berhak-sombong dan kelewat
ambisius-arogan ini sampai berusaha mengabaikan rasa sakit di lututnya demi
terus bermain di final. Menjelang berakhirnya laga, komentator berulang-ulang
menyebut nama Cristiano Ronaldo, meski ia tak bermain. Tentu kita akan selalu
ingat kan, muka kejam Ronaldo yang menyuruh Raphael untuk kembali masuk
kelapangan dan berhenti manja-manjaan di pinggir lapangan.
Kesuksesan Portugal
ini lebih layak dipersembahkan untuk Mourinho. Ini menjadi bukti bahwa Mou tak
sendiri lagi. Setan-setan yang anti-sepakbola bermunculan, menyusul dirinya
yang telah lebih dulu menyusuri jalan sunyi dalam perjuangan melawan hegemoni
selera sepakbola. Ia akan lebih percaya diri lagi bila akan membalas cemoohan
macam “Boring Boring Chelsea” yang mungkin saja bertansformasi menjadi “Boring Boring
United”.
Saya kadang-kadang
sempat berpikir jalan yang dilalui Mou ini serupa utopia. Sebab penyakit yang
membuat orang-orang berpandangan sempit tentang keindahan sepakbola sudah
sedemikian kronis. Karena mereka akan sulit menyadari bahwa, untuk menentukan
langkah yang harus dilakukan striker saja, ada beribu cara. Tumpukan cara yang
mungkin sebagiannya masih misteri inilah salah satu keindahan sepakbola.
Akan tetapi, ketika berpikiran
tentang utopia, saya juga teringat ucapan Fernando Birri: “Utopia berada di horizon
dan saya tidak akan pernah mencapainya. Karena, jika saya berjalan 10 langkah
mendekati horizon, maka ia akan menjauh 10 langkah. Dan jika saya mendekat 20
langkah, saya akan 20 langkah lebih jauh dari horizon. Alasan kita percaya pada
utopia, karena ia membuat kita melangkah.”
Saya percaya,
Mourinho akan terus melangkah.







